Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2015

DEMAM

Menulislah dengan cinta, karena jika kau menulis dengan cinta maka setiap kata akan beranak, mereduplikasi diri dan berkembang biak. Semakin banyak cinta yang kamu beri semakin banyak juga anak-anak kata yang lahir, muncul dan di atas kertasmu mereka menari, indah sekali. Tapi yang jadi masalah adalah lagi-lagi demam ini hadir. Membuat mataku berkunang-kunang dan telapak tanganku jadi keringatan. Aku tak bisa menghadirkan cinta lewat tulisan saat demam, cinta sementara harus berperan seperti jaket. Kalau aku buka, badanku kedinginan kalau aku bekap lama-lama aku keringatan, aku ada dalam dilema yang ending nya sama-sama tidak mengenakan. Semua karena demam. Tapi kewajiban harus purna, tak ada tawar menawar bagi seorang lelaki kalau sudah ucap janji. Dengan jari keringatan dan mata masih berkunang-kunang, aku genapkan tulisan ini walau aku selalu mahfum tak bakal ada cerita terbaik di sini. Cerita terbaik tak pernah tertuliskan, mereka abadi terkunci dalam angan. Tapi toh dengan beru

SANDWICH

Peluh sebesar jagung mulai merembes dari pori-pori kulitku, nafasku senen-kemis , mata mulai berkunang-kunang, sendi dengkul rasanya mau lepas, telapak kakiku panas. Untunglah di tikungan depan kamu berhenti, kamu menengok ke belakang dan menemukan aku yang terseok-seok berlari hampir pingsan. Kamu tersenyum, kamu injeksikan semangat lewat suara "Ayo!" katamu. Percuma tidak berpengaruh banyak, tiga puluh detik kemudian aku sampai di hadapanmu dengan muka merah, sambil terbungkuk-bungkuk batuk. Sungguh di hadapanmu aku merasa menjadi kurang lelaki, bukan karena tinggimu yang hampir seratus tujuh senti, bukan pula karena rahang kukuh yang tampak macho itu. Tapi aku selalu merasa seperti seorang wanita yang terlahir dengan tubuh laki-laki, tapi wanita itu lesbi, jadi aku tetap suka kamu, karena kamu jelas-jelas wanita. Wanita tinggi dengan rahang kukuh yang kini tertawa-tawa sambil memapahku yang swmpoyongan berjalan menuju bangku taman. "Kamu kurang makan," katamu

MALL

Dan akhirnya di sinilah kita, bergenggaman tangan tapi terpisah sejauh mata memandang. Terjebak dalam tingkap kaca seluas hampir satu hektar, dan tingginya sebatas langit tercakar. Dalam gedung luas ini aku merasa pengap karena suara yang keluar dari bibirmu selalu sunyi. Hening suaramu meracuni udara, menebar malaria, bikin telingaku terinfeksi sepi. Dalam tingkap kaca yang terang benderang ini mataku terasa alfa, netraku buta dalam sorotan jutaan watt lampu menyala. Dalam gelap yang terang benderang ini aku tarik lehermu mendekat lalu aku berbisik "Tolong bimbing aku, tunjukkan beda antara bibirmu dan biji mataku." Lantai demi lantai kita lalui, di setiap koridor kita bertemu wajah yang sama. Di kanan ada bioskop, di kiri ada restoran dan di hadapan kita membentang jalan lurus tanpa akhir. Aku gemetaran, takut dan merasa asing dalam semesta granit maha luas ini. Aku eratkan peganganku ke telapak tanganmu, tapi semakit erat tanganmu tergenggam semakin kosong dan hampa yan

ADAM

Kalau ada dua hal yang paling absurd di dunia ini, cinta dan Farras harus masuk dalam daftar utamanya. Betapa Farras dan kisah cintanya seperti selapis kertas tipis pembeda antara waras dan gila. Aku kenal Farras sekitar sepuluh tahun lalu di sebuah toko kaset, waktu itu kami berebut kaset Maroon 5 yang tinggal satu-satunya di toko itu. Padahal aku adalah orang pertama yang mengambil kaset itu tapi Farras ngotot lalu memohon-mohon agar aku memberikan kaset itu untuknya, berhubung dia wanita terpaksa aku mengalah. Saat kutanya kenapa dia tergila-gila dengan Maroon 5 jawabannya sangat sederhana, karena penyanyi utamanya bernama depan Adam, itu saja tidak lebih. Setelah pertemuan itu aku jadi semakin dekat dengan Farras, dan semakin sadar bahwa dunianya hanya berputar di sekitar Adam. Dia fans fanatik pemain sinetron Adam Jordan, bukan karena ketampanannya, kualitas aktingnya atau lesung pipitnya, tapi karena nama depannya Adam, itu saja. Bahkan suatu ketika dia pernah bercerita kalau

SURAT

Usianya kutaksir sekitar tiga belas tahun, tapi intelegensi dan daya pikirnya tidak melebihi anak yang berumur enam tahun. Anak ini bernama Elzar, tubuhnya tinggi gempal, kulitnya sedikit hitam, yang menarik dari anak ini adalah matanya selalu berbinar-binar ceria dan bibirnya selalu tersenyum. Dia sedikit imbisil, salah besar mendaftarkan dia di sekolah ini. Ini sekolah Kejar Paket A, tempat anak-anak yang memiliki masalah di sekolah formal dan berencana mengejar ketertinggalannya. Tapi apa daya Elzar, seorang anak imbisil dari keluarga yang kurang mampu. Ibunya seorang pedagang nasi uduk di pasar dan ayahnya seorang pengangguran yang temperamental dan kadang-kadang tidak segan 'main tangan' pada Elzar dan ibunya. Bagi Elzar mendapatkan pendidikan di Sekolah Luar Biasa seperti impian di awang-awang, biayanya pasti tak terjangkau. Dan apes-sekaligus beruntung-nya aku berkesempatan walau hanya sekitar dua bulan untuk mengajar kelas Kejar Paket A ini. Jumlah muridnya hanya tujuh

TEH MANIS HANGAT

Kalau berbicara tentang betapa kita seringnya bermewah-mewah menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, mungkin akulah orang yang paling sombong dalam bermewah-mewah itu.... Dua hari yang lalu mendadak saat sore badanku demam, tubuhku menggigil, kepalaku pusing. Ini mungkin disebabkan karena aku kurang tidur malam sebelumnya, terlalu asyik dengan buku dan tontonan. Sendiku sepertinya lolos semua, jangankan berjalan ke warung untuk membeli obat, berdiripun rasanya aku tidak sanggup. Aku hanya bisa tiduran di sofa ruang tamu, gawatnya hari itu tak ada satu orangpun di rumah yang bisa aku mintai tolong. Kucoba untuk menelepon beberapa teman, tapi sialnya tak ada satupun yang mengangkat. Mungkin mereka sedang sibuk menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Aku pasrah, sepertinya tak ada lagi yang bisa aku mintai bantuan, aku hanya bisa berdoa semoga demam ini tidak semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba aku ingat kamu, orang yang sepertinya akn selalu jadi pilihan terakhir untuk aku mintai bantuan,

JALANAN KOSONG

Pukul dua belas kurang lima belas menit, sudah hampir tengah malam. Aku dan kamu terdampar lagi di pelataran cafe ini, dengan puntung rokok dan abu yang bertumpuk-tumpuk di dalam asbak. Segelas kopi hitam yang hampir habis separuhnya, serta dua cangkir oca yang tak pernah kamu sentuh sedikitpun. Aku kadang heran, setiap pukul setengah sebelas malam kamu selalu mengajakku ke tempat ini, memgawasi jalanan kosong di depan cafe seolah-olah pangeran tampan berkuda putih akan datang menjemputmu dari arah tikungan. Aku juga heran kamu begitu sering tampak histeris dan bahagia dengan persoalan yang tampak sederhana. Tukang parkir yang membantu seorang ibu tua menyeberang saja bagimu tampak seperi pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Melihat itu kamu sudah bahagia, aku iri, di setiap sisi kamu tampaknya selalu merayakan kehidupan. Kamu jatuh cinta pada setiap sendi kehidupan ini dan ikut lumer sampai ke sum-sumnya. Tolong pahamilah aku, dibanding kamu aku bukan apa-apa. Otakku berger

BUAT KAMU

Kenapa kamu berusaha menahan air mata yang merembes dari mata hazelmu? Apakah kamu malu? Padahal dalam ruangan ini tak ada siap-siapa kecuali kamu dan bayanganmu yang terpantul di cermin. Atau mungkin rasa malu terbesarmu adalah terlihat menangis di depan bayanganmu sendiri? Malu karena pada akhirnya kamu sadar, kamu sudah tertinggal, kesepian dan merasa terasingkan dalam penjara batin yang sudah kamu ciptakan dan kamu masuki dengan sukarela. kamu selalu merasa bahwa suatu saat Tuhan akan berbaik hati merubah penjara yang kamu buat ini menjadi istana. Setiap malam kamu selalu berdoa dengan doa yang sama, kamh percaya Tuhan tak akan pernah bosan, malahan Tuhan akan semakin paham apa yang sebenarnya kamu inginkan. kotak musik pemberian dia terakhir sebelum dia pergi dan mengurungmu dalam semesta yang sepi adalah mesin penghiburmu, setiap malam melantunkan lagu kesepian yang sama. sepinya hatimu ditambah lantunan lagu sepi dari kotak musik malah menjadikan malammu jadi riuh, meriah dan

PENGAKUAN

Kalau dulu aku sering berseloroh dan mengejek-ejek cinta, maka kini aku harus menarik kembali semua ucapanku dengan kepala tegak. Aku merasa pandir, malu demgan masa laluku tapi aku berani bermuka-muka dengan kamu, menantang tatapan mata dan berucap kalau aku sudah jatuh cinta. Kalau semisal ini benar cinta, berarti di hadapanmu aku bukan hanya jatuh tapi sudah berguling-guling pasrah dan menikmati kekalahanku atas dirimu. Melepas kamu sudah hampir tak terpikirkan, seperti melepas bagian tunuhku sendiri. Kamu itu sudah seperti jantung yang memompa darah atau semisal hati yang menyaring racun. Mana mungkin mudah melepas orang yang sudah aku kenal luar dalam. Orang yang lekuk-lekuk urat di lehernya sudah aku hapal betul, bahkan temperatur tubuhnyapun masih bisa aku rasakan. Sudah seperti inilah pekerti cinta membawaku, menyelam dalam di semestamu yang selalu riuh. Saat jauh darimu aku mengambang, hilang arah. Kamulah pusat gravitasi yang selama ini memberi aku bobot, mengguratkan aku s

CITRA

Sudah jarang sekali aku menemukan ego saat bercermin, setiap kali menatap wajah itu, memelototi tubuh itu, lagi- lagi yang kutemukan hanya CITRA. Padahal betapa rindunya aku pada ego, dialah yang sebenar-benarnya aku. Citra hanyalah aku yang memake-up diri agar bisa diterima lingkungan. Saat aku jalan-jalan sore sambil membeli takjilpun aku tak bisa meenemukan ego, aku tak bisa menemukan Jajang, Wawan, Dodi atau Yoni. Di mana-mana aku menemukan Citra. Oh, Tuhan, betapa rindunya aku menemukan ego, bercakap-cakap dengan ego dan menjadi ego itu sendiri. Di dunia yang serba kompleks dan rumit ini  ada satu kekuatan yang ingin mematikan kompleksitas itu sendiri, ingin menyamakan semua ego menjadi satu kesatuan yang sama: Citra. Kalau kamu makan di Restoran Jepang padahal lidah kamu merasa asing dengan washabinya, bahkan dengan sumpitnyapun kamu merasa bermusuhan, berarti yang sedang duduk dan makan di situ bukanlah kamu, tapi Citra. Kamu yang sebenar-benarnya kamu sedang kelaparan, kurus

TEMBOK

Aku pernah berkempatan untuk menginap di rumah temanku selama beberapa malam atas permintaannya karena orang tuanya sedang pergi ke luar kota. Rumahnya di sekitaran daerah Kober. Wilayahnya masih banyak tanah kosong dan jarak rumahnya sedikit berjauhan. Malam pertama menginap aku terbangun saat tengah malam karena merasa haus. Karena letak kulkas ada di ruang tamu terpaksa aku harus berjalan ke sana. Kuambil air dingin dan langsung meneguknya dari mulut botol. Segar.  Dari celah hordeng aku melihat bulan purnama bersinar terang sekali. Karena merasa tidak mengantuk aku putuskan berjalan-jalan ke luar sebentar sambil menghisap sebatang rokok. Udaranya segar sekali. Di ujung jalan ada sebuah pertigaan, di sepanjang tepi jalan ada tembok setinggi sekitar dua meter membentang panjang dari depan jalan raya sampai ke dalam perkampungan. Aku penasaran ingin menemukan ujung tembok tersebut. Aku susuri pelan-pelan sambil menikmati udara malam. Di dekat pohon petai cina aku mendengar suara wa

ZIARAH

Berkunjung ke pusara sahabat seperti tamasya setua usia bumi. Hening. pekat. Saat aku ketuk dinding nisan mereka bergema melantunkan doa-doa. Seharusnya tak usah ada air mata, sebab dia tidak mewakili apa-apa. Air mata bukan duta duka, pula bukan wakil bahagia. Semestinya kamu tahu itu jauh-jauh hari. Hidup kita dulu seperti bunglon, di manapun kita berpijak kita anonim, apa pun yang kita ucap, hanya udara yang menyerap, kita sempurna dalam ketiadaan di dunia yang fana. Terserak di antara reruntuhan porta nigra dan digigit angin dingin laut utara. Tapi, toh kita bahagia. Kita habiskan siang malam dalam fatamorgana sampai tersesat dan terlunta-lunta kembali di Jakarta. Apalagi yang kurang? Kita sempurna. Dua raja diraja dengan tiga belas muka. Tapi satu yang kita lupa, kita cuma sepasang makhluk finit yang terjebak dalam samudera fantasi yang infinit. Lupakanlah, itu bertahun-tahun lalu. Sekarang hanya bisa aku kunjungi kamu dalam bentuk ziarah, aku hanya bisa berbisik lewat pori-

KEBETULAN?

KEBETULAN ? Kadang jika dihadapkan pada suatu momen yang magis -misalkan suatu malam aku bermimpi bertemu dengan mantan pacar yang bertahun-tahun tidak bertemu, lalu pagi harinya mantan pacar itu datang, berdiri di pintu- apakah aku akan menganggap ini sebagai suatu kebetulan? Padahal mendengar kata 'kebetulan' saja sudah membuat kupingku panas, ini karena kelancangan mulut Darwin yang menyatakan bahwa segala sesuatu terjadi secara kebetulan. Helloww, aku adalah tujuh milyar milyar milyar partikel atom yang tersusun dan bersinergi membentuk satu individu unik bernama Achmad Ikhtiar . Dengan berasumsi bahwa aku adalah hasil dari 'sebuah kebetulan' berarti menghinaku secara terang-terangan. Tapi lupakanlah para darwinian, mereka bukan ilmuwan, mereka cuma turis dalam ilmu pengetahuan. Mereka terlalu sibuk merendahkan diri mereka sendiri dan enam milyar manusia lainnya dengan mencap diri sebagai hasil dari 'sebuah kebetulan'. Jika di dunia ini tak ada satupun

MELODI DAN TRAGEDI

Kita berdua pernah tersesat di negeri asing ini, sebuah negeri tanpa bendera, sebuah negeri yang mereka beri nama cinta. Mau bagaimana lagi, matahari keburu gugur. Gelap cepat merambat, padahal peta yang kita genggam belum sempat terbaca. Dalam gelap  hanya ada debur ombak dan detak jantungmu yang berkejaran dengan deru nafasku. Kita ketakutan, wajah kita pucat. Kau tengadah, menahan sesuatu dari pelupuk matamu yang hampir tumpah. 1... 2... gumaman dari bibirmu merapal sesuatu, tapi bukan doa. Kamu masih tengadah. Aku ikuti tatapanmu lalu ekor matakupun terlempar dalam kemahaluasan andromeda. Tak ada lagi ketakutan. Tak ada lagi kegelapan. Wajah kita ditatap bermiliar bintang. Terang benderang. Tubuh kita tersesat di sini, tapi jiwa kita melayang-layang menembus Bimasakti, mampir sebentar ke Alpha Centauri lalu jiwa kita baur dalam eloknya debu semesta. Kita ulangi permainan itu terus menerus, sampai leher kita pegal, sampai kokok ayam pertama berbunyi. Saat fajar nyalang merah di

KAMU

Jangan pernah tanyakan padaku perihal Cinta dan Kehidupan. Jawabannya pasti maklum, bias dan abstrak. Si idiot ini pasti akan bercerita tentang kelemahannya dalam memahami makna, ketidakmampuannya menyerap hakikat di dunia abu-abu yang serba ambigu ini. Aku mau jujur padamu, bagiku kehidupan dan cinta itu cair. Aku tak bisa meraba atau memaknainya dalam bentuk matra. Mereka mengalir dalam kepala dan nadi seperti ombak soliton. Terus mengalir tanpa pernah mampu aku pahami. Dalam semesta yang serba tiga dimensi ini cuma kamu mahkluk paling eksis di hadapanku yang bisa aku raih. Aku masukkan cinta dan hidup dalam ragamu lalu aku peluk. Hanya dengan cara itulah aku bisa paham arti cinta dan hidup. Jadi jangan pernah bertanya "Apakah kau mencintaiku?", sebab aku pasti akan berjanji untuk selalu menjaga 'wadah ajaib' pemberian Tuhan ini sampai mati. Cukup ya, jangan perpanjang masalah ini lagi, sebab yang ditanya pasti tidak bisa menjawab, hanya bisa bercermin pada boto

ISFAHAN

Bertemu dengan dia berarti berhadapan dengan tirai bening, dia menutupi tapi tak menghalangi. Tirai itu memisahkanku dari dunia luar, tapi dunia luar itu masih bisa kutatap dari tempatku berpijak. Bermuka-muka dengan dia berarti menceburkan diri ke dalam palung terdalam di samudera, aku gelagapan menahan nafas, tapi lalu takzim, terkecoh dan terpesona pada keindahan yang selama ini tersembunyi di balik triliunan kubik air asin itu. menatap matanya bagai menemukan sebuah anak kunci untuk membuka semua pintu. Kubuka sebuah pintu lalu di dalamnya kutemukan sebuah ruangan pucat dengan satu jendela, dan tirai jendela itu adalah sebuah tirai yang bening: dia. Cahaya matahari menembus tirai yang bergoyang lalu menciptakan spektrum indah di atas dinding pucat. Dalam pantulannya aku menemukan sosok yang paling aku rindukan: diriku sendiri. Aku bahagia, sebuah kebahagiaan yang tak pernah mampu aku ucapkan. Kebahagiaan yang magis dan personal saat aku menemukan aku. Lalu aku menangis seseguka

RENUNGAN

Apa lacur, budaya pop dalam kesenian sudah seperti dinosaurus, besar, kuat, menjijikan, mendominasi, siap menerkam dan pasti PUNAH dalam waktu dekat. Seniman sekarang ibarat pabrik, cerobong asapnya mengepul-ngepul menyebarkan racun ke stratosfer. Namun, tampaknya para penikmat seni juga senang dengan karya yang beracun. Karya yang mereka santap saat senggang, bahan obrolan saat hang out di mall dengan teman, karya yang jadi tameng agar selalu eksis dalam pergaulan. Kalau Anda mau bermusik, mainkanlah musik pop dengan irama melayu, tak perlu indah yang penting liriknya norak, setelah itu buat skandal yang tak ada hubungannya dengan musik, pasti Anda akan terkenal dengan cepat. Kalau anda mau jadi penulis, tiru habis karya Habiburahman atau Asma Nadya, budayakan ta'aruf dan anti pacaran sebelum nikah. Pesan moralnya baik, tapi menjadi membosankan karena ribuan kali diulang dalam ribuan novel dan teenlit. Tak apa-apa, pembaca suka yang seperti itu, banyak pembaca yang kurang perc

BOM WAKTU

BOM WAKTU Kalau kamu merasa hidupmu datar-datar saja, setiap hari hanya berkutat dengan rutinitas yang seperti borgol. Cobalah sekali-kali datang ke toko barang loak, tanya kepada penjualnya apakah mereka punya bom waktu ‘second’.    Bersyukurlah kalau mereka punya bom waktu ‘second’ itu. Bom waktu yang timer-nya sudah soak, yang gerakan timer-nya ugal-ugalan dan dan bisa meledak kapan saja. Belilah tanpa menawar. Lalu bergegaslah pergi ke toko material atau bengkel motor pinggir jalan. Beliah beberapa helai kabel tease, kabel berbahan dasar plastik lentur yang hanya bisa digunakan sekali pakai.    Lalu rangkai bom waktu dan kabel tease tadi di tubuhmu. Ikat yang kencang agar tidak mudah lepas atau  bergoyang. Cobalah membiasakan hidup dengan bom waktu itu. Bom yang siap meledak kapan saja lalu mencabik-cabik tubuhmu jadi serpihan. Keren bukan? Lalu kabarkan gaya hidup kamu yang baru ini kepada teman-temanmu, lihat berapa banyak temanmu yang masih dengan rela bersahabat dan menghabi

APA KAMU TAHU?

APA KAMU TAHU?    Apa kamu tahu, terkadang untuk menjadi sempurna itu berarti kamu juga harus belajar untuk mempercayai orang-orang di sekitarmu?    Setidaknya, satu orang saja. Orang yang selalu ada di sampingmu, orang yang ada namun seperti bayang-bayang, hanya mengikuti ke mana saja kakimu melangkah tapi tak pernah protes dengan semua yang kamu lakukan. Orang yang kadang kamu anggap tidak pernah ada, walaupun sebenarnya kamu tahu kalau dia eksis.    Kamu juga harus menceritakan semua duka kamu, luka kamu, ceritakan saja. Aku selalu siap untuk mendengar, walau kadang jawabanku hanya berupa gumaman-gumaman tak jelas. Minimal dengan bercerita, dukamu akan sedikit berkurang walau tidak menghilangkan sepenuhnya.    Tubuh kamu itu bukan cuma sangkar tempat memelihara rupa-rupa perasaankan? Dia juga cangkang untuk sebuah jiwa. Jiwa itu tidak akan pernah lengkap tanpa jiwa lainnya yang jauh-jauh hari sudah dipasangkan sebelum tubuh kamu itu berwujud. Itulah kenapa Tuhan menciptakan Ha

ANJING

ANJING    Barusan aku mengungkapkan cinta pada seorang gadis yang sudah beberapa bulan ini aku kenal. Ternyata mengungkapkan cinta bukanlah sebuah perkara besar, tapi mengapa beberapa minggu ini aku begitu merasa ragu, tegang dan cemas yang berlebihan? Aku akui gadis itu adalah gadis manis bermata coklat hazel yang indah, rambut warna brown coffee sebahunya begitu serasi dengan warna kulit putihnya.    Apabila aku menatap matanya  dan berusaha menyelaminya aku langsung merasa menjadi ‘kurang lelaki’ di hadapannya. Aku selalu terbanting dengan latar belakang dan masa laluku. Dia terlahir dari keluarga terpandang dan memiliki segalanya, sedangkan aku.... aku bahkan tidak ingat masa laluku, bila aku memejamkan mata yang teringat hanyalah lalu lalang orang di jalanan becek saat hari gerimis, dan bau anyir pasar meruap jelas.    Orang tuaku? Aku benar-benar lupa wajah mereka, yang aku ingat hanya pelukan ibuku saat suasana dingin, dan aku menyelusup ke balik badannya mencoba mendapatkan