Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2016

SEBENTAR LAGI FAJAR

You know that everyday a helpless child is born Who needs some loving care inside a happy home Queen/ Is This The World We Created? “Ibu,” “Iya, Sayang.” “Bolehkah aku meminta sesuatu?" "Apa?" "Aku ingin kembali ke dalam rahim ibu.Berhangat-hangat di dalamnya dan tak pernah berharap untuk terlahir." ***** Bersyukur sekaligus terkutuklah orang yang terlahir dan besar di bumi ini. Segala bentuk kehidupan rapat tersaji. Kontradiktif, imajinatif, mengundang selera, menipu, mempermainkan akal perasaan, mengkhianati nurani. Figura penuh debu, di dalamnya terselip poto seorang gadis remaja dengan lesung pipit dan rambut poni sebatas alis. Di pojok kanan bawah ada tulisan tangan buram. 28 Oktober 2011. Sudah lima tahun berlalu, batinnya. Matanya menerawang jauh. ***** Seorang perempuan dengan peluh yang membanjiri seprai tengadah, menjerit, terengah-engah, berdoa untuk dua kehidupan yang kini nyaris putus, dia dan anak yang akan dilahirka

KAMU UNTUK MEREKA

sumber: beginner.mywapblog.com “Apa masih bisa, Dok? Apa masih belum terlambat?” Dokter mengangguk. Tiba-tiba seisi ruangan meledak oleh tangis. Pagi itu rumah sakit banjir air mata. Ada seorang sahabat yang mati tapi jiwanya masih bisa bertansformasi ke puluhan hidup yang lain. Rani duduk di kursi tunggu selasar rumah sakit. Matanya masih sembab, dadanya sesak, oleh bahagia. ***** Rambut ikal panjang tertiup angin pantai yang berhembus membawa angin garam ke darat. Di belakangnya berdiri puluhan gubuk reot beratap seng yang mulai karatan. “Mau sampai kapan mengabdikan diri di kampung nelayan ini.” Suatu sore Rani bertanya. Roy yang sedari tadi duduk di atas batang pohon rubuh hanya menyisir rambutnya dengan sela jari. Matanya menerobos jauh ke seberang lautan. “ Nggak kangen pulang?” tanya Rani lagi. Roy meringis. Ada satu kata yang selalu dihindarinya sampai saat ini, pulang. Kata pulang seolah-olah selalu membenturkannya dengan penga

SEMENTARA KITA TERTIDUR

sumber: infotrens.com Aho segala kita anak adam. *) Empat belas ribu delapan ratus, tas sekolah paling murah pun harganya di atas tiga puluh lima ribu. Dia seka air mata yang tiba-tiba mengembang di sudut mata, terkenang perkataan putri semata wayangnya tadi pagi. “Pa’e nanti kalau nanti pulang belikan tas sekolah yang ada gambar barbie -nya ya!” Dia hanya mengangguk. “Warna merah jambu ya, Pa’e” tambah putrinya sesaat sebelum dia memikul keranjang sol sepatu. Sekali lagi dia hanya mengangguk. Hatinya teriris, getir. Sudah malam begini, di saku hanya ada empat belas ribu delapan ratus. Itu pun sudah sebisa mungkin mengirit pengeluaran hari ini. Dengan sekantung garam yang dia siapkan dari rumah, pengganti kerupuk untuk dimakan dengan nasi. Nasi dan garam itulah, sarapan sekaligus makan malamnya hari ini. Di atas jembatan penyebrangan yang mulai sepi dia terduduk mengutuki nasib. Matanya menerawang jauh, ke langit malam yang pekat, bulan, bintang,

JENDELA

sumber: artebia.com “Sudah kubilang jangan sekali-kali berani membuka jendela itu!” “Kenapa?” “Karena saat kamu melihat dunia di balik jendela kamu akan menginginkannya.” “Itu apa?” “Itu adalah tangisan.” “Kenapa manusia menangis?” “Karena hatinya sedang dihinggapi kesedihan?” “Apa itu kesedihan?” “Kenyataan yang terjadi di luar harapan.” “Apa pula itu harapan?” “Sesuatu yang kamu inginkan agar terjadi dalam hidupmu.” “Aku paham sekarang. Berarti manusia akan menagis jika harapannya tidak terpenuhi.” “Benar. Cepat tutup jendela itu!” “Sebentar, apa itu yang di sebelah sana?” “Itu tawa.” “Kenapa manusia suka sekali dengan tawa?” “Karena tawa adalah wujud bahagia.” “Bahagia?” “Iya, bahagia.” “Apa itu bahagia?” “Bahagia adalah saat harapanmu terpenuhi.” “Berarti tawa adalah kebalikan dari tangis?” “Tepat.” “Kenapa tangis diciptakan? Bukankah akan lebih menyenangkan kalau hanya ada tawa di dunia?

AKU BUKAN MONYET!!

sumber: kaskus Heran, setelah berhasil selamat dari gunung itu kok sepertinya orang-orang di sekitarku malah memandang dengan cara yang aneh? Bukannya memberikan selamat  karena aku berhasil bertahan hidup setelah hampir sepuluh hari tersesat, mereka malah memanggilku dengan sebutan monyet. Jujur saja aku kecewa dengan mereka. Kalau mereka berharap aku mati di gunung itu, kenapa tidak bilang saja secara langsung? Bukannya malah mengata-ngatai aku seperti ini. Memang setelah aku keluar dari gunung itu selalu ada seekor monyet yang mengekor di belakangku.  Asal kalian tahu saja, monyet itu yang sudah bikin aku selamat dan berhasil keluar dari gunung sialan itu. Kalau saja aku tidak bertemu si monyet aku pasti sudah mampus. Biar aku ceritakan ya, di hari ketiga setelah tersesat, aku  tidak pernah berpikir akan keluar dari gunung itu hidup-hidup. Kata orang-orang gunung tempat aku biasa berburu itu wingit, angker, sudah banyak orang yang masuk tapi tak pernah berhasil ke

JAKARTA (AKU) BEKU

www.liataja.com Tiba-tiba ada yang aneh dengan Jakarta pagi itu. Sejak malam suhu drop total sampai di bawah nol. Salju turun. Sungai-sungai beku. Burung-burung dalam sangkar mati. Masyarakat kaget, tapi mencoba menghibur diri kalau fenomena ini cuma anomali cuaca biasa dan akan normal kembali dalam waktu dekat. Tiga hari selanjutnya, salju tetap turun dari langit. Jalanan tertutup salju setinggi paha. Rumah-rumah yang terbuat dari kayu roboh karena tak sanggup menahan salju yang jatuh di atas genteng. Karena hujan salju adalah peristiwa langka di Jakarta, masyarakat berbondong-bondong ke luar rumah, membuat boneka salju, bikin benteng-bentengan bahkan ada beberapa yang membawa sirup untuk membuat es buah. Hari kelima, jalanan menjadi lengang. Ketinggian timbunan salju sudah hampir dua meter. Beberapa tetangga sebelah rumahku mati kena hipotermia. Pemerintah stress, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tentara diturunkan untuk membersihkan salju. Sebagian besar war