Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2015

SUP PENDIDIKAN

Setiap awal tahun ajaran baru saya selalu saja melihat banyak ‘orang gila’ musiman. Mereka ramai-ramai bergelantungan di pintu Kopaja, berdesak-desakan dalam angkot, terguncang-guncang dalam bajaj atau terkantuk-kantuk di boncengan tukang ojek. Mereka memakai kaus kaki warna-warni, ikat rambut dari tali rapia, berselempangkan tas dari kantong kresek, aksesoris dari bungkus permen atau kulit jengkol,  mereka berjalan sambil tertunduk-tunduk malu karena jadi perhatian di pusat keramaian. Beberapa hari sesudahanya pasti ramai diberita, ada anak sekolah yang kena tempeleng senior, ada orang tua yang melapor ke pihak kepolisian karena anaknya diperlakukan di luar batas kewajaran, bahkan yang paling miris ada yang sampai harus meregang nyawa, jadi korban dari program konyol yang dinamakan Masa Orientasi Siswa (MOS). Lalu para pejabat dari tingkat atas sampai tingkat yang paling bawah mulai kasak-kusuk mencari siapa yang salah, mulai mempertanyakan urgensi program MOS. Sesuai adat kebiasaan

KECELAKAAN DAN REFLEKSI ODOP

KECELAKAAN DANREFLEKSI ODOP Menulis adalah salah satu cara unik yang dikembangkan manusia untuk mentransfer ilmu, pemikiran dan pandangan. Menulis juga merupakan salah satu pembeda manusia dengan mahkluk lainnya. Seribu tahun ke depan bukan lagi tulang belulang yang seharusnya kita tinggalkan, bukan pula artefak handphone, laptop, mesin ATM atau mobil. Tulisanlah yang akan membuat kita dikenang. Jujur saat pertama kali saya bergabung dengan program One Day One Post (ODOP) saya tidak menaruh ekspektasi terlalu banyak, minimal dengan bergabung dalam program ODOP saya bisa mendisiplinkan diri untuk menulis setiap hari, dan hebatnya ternyata hanya saya satu-satunya anggota yang berhasil menulis tanpa absen setiap hari walaupun tulisan saya adalah yang paling  ngawur, ejaannya serampangan dan diksinya ugal-ugalan. Tapi toh dari situ ternyata saya bisa belajar satu hal. Menulis itu harus dipaksakan. Tak ada lagi istilah menunggu ilham datang. Menulislah, menulis dan menulis. Menulis saamp

BALADA LARA - PART 12

KONSTELASI PERTAMA Tempat paling magis yang diciptakan alam adalah pantai. Pantai adalah tempat pertemuan antara daratan dan lautan. Jika kita berdiri di batas antara dua dunia itu kita akan disuguhi pemandangan fantastis, di bahu kiri kita langit yang kemerahan dan di bahu kanan kita malam yang pekat. Deburan ombak yang berkejaran ke daratan akan menciptakan irama ritmik yang menghipnotis. Pantai adalah tempat terbaik untuk menyepi sekaligus berhura-hura. Pantai adalah sebuah garis ajaib yang tak pernah ada duanya. Anna sedari tadi memperhatikan siluet gadis yang menghadap matahari di tepi pantai itu. Rambutnyanya yang panjang dan berkibar-kibar menambah indah pemandangan dengan latar langir merah dan warna laut keemasan. Anna yakin jika gadis ini adalah gadis yang sudah lama dia tunggu-tunggu. Gadis yang sudah ditakdirkan untuk menjalani sebuah peristiwa besar. Beberapa puluh meter dari garis pantai ada dua orang pemuda yang sedang asyik berenang dan berkejaran. Anna maju beberapa

REINKARNASI

Kalau membicarakan reinkarnasi kita pasti akan terpentok dengan pemahaman beberapa agama yang saling bertentangan. Ada yang pro dan ada yang kontra. Beberapa agama meyakini adanya reinkarnasi. Beberapa lagi menganggap reinkarnasi adalah sebuah hal yang mustahil terjadi. Untuk mencari titik temunya alangkah baiknya kita memandang reinkarnasi dari luar konteks keagamaan. Kita coba pecahkan berdasarkan konteks keilmuan. Tapi jangan lagi kita terjebak peperangan antara agama dan ilmu pengerahuan yang seolah tak pernah berakhir. Agama dan ilmu pengetahuan tidak pernah bertentangan jika kita mau membuka mata lebar-lebar dan melunakkan hati. Agama dan ilmu pengetahuan berasal dari sumber yang sama: Tuhan. Ilmu pengetahuan yang lebih muda harus bisa menghargai agama yang lebih tua, agamapun harus bisa bersikap bijak pada ilmu pengetahuan yang jauh lebih muda. Kita kembali lagi pada konsep reinkarnasi, tapi kita tidak akan membicarakannya dalam konsep mistis dan hal gaib. Kita akan membahas

BALADALARA - PART 11

SI MAHKLUK TENGAH Tengah malam di Jakarta saat musim panas selalu menyenangkan. Lara, Oma Hilda, Nikki dan Emir sedang duduk di atas balkon rumah. Langit cerah, bintang bertaburan. Malam yang biasanya gelap sekarang tampak benderang. Angin semilir mengusir hawa gerah yang mengganggu sejak siang Empat gelas bandrek terhidang di meja. Lara tengadah memfokuskan pandangannya pada langit. “Ada berapa banyak bintang di langit, Oma?” tanya Lara. Pandangannya masih tertuju pada langit yang tampak semakin benderang. “Entahlah. Apakah kamu bisa menghitungnya, Lara?” tanya Oma membalikan pertanyaan Lara. Lara mengalihkan pandangannya pada Oma Hilda. Dia menggelengkan kepalanya. Oma Hilda tersenyum. “Mungkin milaran jumlahnya, Oma.” Kata Nikki tiba-tiba menimpali. “Bisa saja.” Jawab Oma. “Tak ada yang pernah tahu pasti.” Lanjutnya. “Apakah semua ini tercipta dengan tujuan tertentu?” Emir ikut bertanya. “Pasti. Coba kamu bayangkan. Kita berempat ada di rumah ini. Rumah ini ada di Jakarta.

BALADA LARA - PART 10

ANNA MOLLY, ANOMALI, UNNORMALLY Manusia paling sial yang berdiri di bawah sinar matahari adalah para penyair. Mereka para penangkap esensi, bagi mereka kesedihan dan kebahagiaan adalah sama. Jika saat sedih kita menangis, maka saat bahagia kita tertawa. Tertawalah terus... terus... sampai pelan-pelan kita tidak sadar pipi berlelehan air mata. Air mata keluar dari sumber yang sama. Kebahagiaan dan kesedihan adalah setara. Sedangkan manusia paling bahagia adalah orang yang bebal, manusia yang merasa masa bodoh pada tatanan. Bagi mereka menaati aturan yang dibuat oleh manusia berarti murtad pada norma spiritual. Itu berarti mengkhianati diri sendiri dan memisahkan diri dari arak-arakan pawai kemanusiaan. Mereka inilah golongan bohemian. Anna termasuk golongan yang kedua. Nama lengkapnya Anna Molly, dia teman dekat Nikki. Menyebut namanya saja kita seperti mengeja sebuah kata ‘anomali’ pusat dari segala absurditas. Dia seorang bohemian sejati, tapi jangan samakan dia dengan hippie, dia

BALADA LARA - PART 9

DAN SEMUA LUMER DI HADAPAN CINTA Kalau ada hal yang harus manusia percayai selain Tuhan, itu adalah ketidakpastian. Tuhan yang infinit dan tidak terdefinisi adalah hal yang tak terbantahkan. Tuhan abadi dan kekal sebagaimana ketidakpastian. Ketidakpastian dihadirkan Tuhan dalam kehidupan sebagai bukti akan sifat ketuhanan itu sendiri, untuk menunjukkan bahwa manusia hidup dalam semesta tiga dimensi yang serba fana dan selalu menggenggam ilusi, cara satu-satunya untuk berpegang kukuh pada ilusi itu adalah dengan menggenggam yang Maha Multi Dimensi, yaitu Tuhan itu sendiri. Seperti Emir sang santo milenium, dia adalah bukti nyata dari ketidak pastian. Di balik sifatnya yang serba terukur dan tenang, diam-diam dia memendam gejolak samudera yang menggelora dalam hatinya. Beberapa hari ini dia tidak bisa tidur, setiap memejamkan mata dia merasa terteror, bayangan Amelia yang sedang megap-megap sekarat selalu menghantuinya. Dia benci rumah sakit, benci warna putihnya, benci aromanya yang s

BALADA LARA - PART 8

ADA ISFAHAN DI MANHATTAN Beberapa hari terakhir ini Lara merasa tidurnya kurang nyenyak. Ada sesuatu yang dia rindukan. Padahal perasaan itu tak pernah dia rasakan sebelumnya. Jangankan merasakan, berpikir dan mengharapkan perasaan itu hadir saja sepertinya tabu untuknya. Tapi perasaan ini hadir begitu saja denagn tiba-tiba, merenggut senyumnya dan menggantikan dengan rasa muram. Perasaan ini begitu mencengkeram. Lara terjebak dan tidak bisa lepaas. Oma Hilda yang menyadari keadaan Lara meminta Emir dan Nikki untuk menghiburnya. Mengajak Lara jalan-jalan, menghiburnya dengan lampu-lampu, nyanyian dan tontonan. Tapi rasanya sia-sia. Seterang apapun nyala lampu, seindah apapun nyanyian dan semenarik apapun tontonan tidak bisa menghilangkan rasa rindu Lara. Perasaan itu  hadir dari dalam diri dan secara tiba-tiba, jadi percuma mencari obat dari luar, mencoba menghibur diri dengan keriuhan tak akan berpengaruh banyak. Karena sumber kekosongan berasal dari dalam. Oma Hilda merasa sangat

BALADA LARA - PART 7

TUHAN ADA DI MANA-MANA Oma Hilda dan Lara sedang duduk di ruang tamu sambil menonton siaran berita di televisi. Acara paling menyedihkan dari semua program yang ditayangkan. Melalui siaran berita kita bisa melihat dan merasakan sedikit borok dunia. Ada bencana kelaparan di Ethiopia, perang saudara di Rwanda, gelombang udara panas di Eropa sampai berita bunuh diri masal yang dilakukan suatu sekte penganut kepercayaan akhir zaman. Sebetulnya Lara bosan dan miris melihatnya, dia ingin mengganti program tapi merasa tidak enak dengan Oma Hilda. Tak lama kemudian Nikki dan Emir datang sambil membawa bungkusan berisi minuman dan makanan ringan. Mereka ikut duduk di sofa sambil membuka bungkusan. “Ada berita apa, Oma?” Nikki bertanya sambil mencomot sepotong pizza. “Kamu lihat saja” kata Oma Hilda tanpa memalingkan wajahnya dari layar televisi. Berita perang di Jalur Gaza sedang ditayangkan. Banyak gambar-gambar yang menggelitik kemanusiaan, roket beterbangan, api di mana-mana, korban ber

BALADA LARA - PART 6

TEBING “Apa yang kamu lakukan di situ, Nak?” Pak Samir berkata pada seorang pemuda yang sedang berdiri di ujung tebing. Pemuda itu tidak bergeming. “Mari mampir dulu ke rumah bapak. Kita bisa ngobrol sambil minum kopi di sana. Di sini banyak angin dan udaranya dingin.” Pak Samir melanjutkan. Pemuda itu berbalik. Pak Samir tersenyum penuh arti. ***** “Kamu masih muda dan cantik. Perjalanan hidup kamu masih panjang. Tidak baik berdiri sendiri di sini. Kita ke rumah bapak. Di sana kita bisa ngobrol sambil minum teh.” Pak Samir berkata sambil menyodorkan tangan kanannya. Perempuan muda itu ragu-ragu. Pak Samir tersenyum lembut sambil mengangguk. Perempuan muda itu menghapus air mata yang berlelehan di pipinya. Dia menyambut tangan Pak Samir. ***** Hari ini rumah pak Samir ramai dikunjungi orang. Pak Samir meninggal diusianya yang ke tujuh puluh dua. Pak Samir hidup menyendiri dan tidak punya keluarga. Semua keluarganya tewas dua puluh tahun lalu dalam sebuah kecelakaan. Pesawat terb

BALADA LARA - PART 5

ALAMPUN PESTA PORA Crash! Crash! Duar...! Langit malam sontak jadi terang benderang. Daun jendela di kamar Lara bergetar. Angin riuh. Udara bergemuruh. Pucuk pohon mengkudu bergoyang-goyang seperti menyambut tamu agung yang akan datang. Angin dingin menyelinap lewat celah lubang angin, dan hujan pun turun. Awalnya hanya rintik-rintik lalu perlahan-lahan mulai deras. Suara jangkrik di halaman depan bersahutan. Pohon mawar dan melati meliuk-liuk dibuai angin. Suara genting yang terhantam air hujan bergema menghadirkan tetabuhan ritmik yang indah, suaranya beresonansi dari dapur sampai ruang tamu. Alam sedang berpesta pora. Hujan pertama di awal Oktober setelah kemarau panjang yang gersang. Lara buru-buru keluar, berdiri di taman sambil tengadah ke langit. Oma Hilda yang sejak tadi duduk sambil membaca di ruang tamu tersenyum melihat kelakuan Lara. Tak ada keinginan untuk  menghentikan semua tindakan anak angkat kesayangannya itu. Oma Hilda tahu kalau anak ini berbeda. Manusia adalah

BALADA LARA - PART 4

MANUSIA-MANUSIA GELISAH Selayaknya adat metropolitan, sabtu malam adalah ajang pembuktian eksistensi. Bagi sebagian remaja mengurung diri pada sabtu malam berarti otomatis tersingkir dari pergaulan. Bagi Nikki, Lara dan Emir adat seperti itu adalah persetan. Apa istimewanya sabtu malam? Menurut pandangan mereka, orang yang berpendapat sabtu malam adalah pembuktian eksistensi pergaulan berarti mereka sudah teralienasi di detik pertama mereka mempercayai pemikiran itu dalam hati. Sehebat-hebatnya mereka cuma jadi laron, berkerumun di sumber cahaya, Mall, pasar malam atau konser gratisan dan yang menyedihkan akan jadi cacing, mengkerut dan kedinginan dalam gedung bioskop gelap atau pekak dan terjebak dalam hingar bingar klab malam. Lara, Nikki dan Emir sedang berkumpul. Mereka bertiga duduk di atas balkon rumah Lara. Oma Hilda sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan rutin setiap sabtu malam, satu loyang croisant dan satu teko teh panas. Nikki sedari tadi sibuk mondar-mandir. Lara dan

BALADA LARA - PART 3

BAJAJ MILENIUM Mereka bertiga duduk membentuk formasi seperti huruf V, berhadap-hadapan di pojok taman yang sedikit terlindung dari panas matahari. Di bawah bayangan pohon akasia tua mereka selalu menghabiskan sore sambil berhadap-hadapan dengan segelas kopi hitam kental, sebotol air mineral dan secangkir teh. Kopi hitam untuk Nikki, air mineral untuk Emir dan teh untuk Lara. Nikki dan Emir seperti sebuah magnet besar. Kutub mereka berlawanan. Nikki berada di kutub negatif. Dia liar, selalu menantang-nantang dan menertawakan kehidupan. Baginya hidup seperti permainan, mainkan sampai tuntas, sampai puas tanpa ada aturan. Dia adalah sumber dari segala tawa dalam komunitas segitiga mereka. Sedangkan Emir seperti Santo dari zaman modern, pembawaannya tenang, kata-kata yang keluar dari mulutnya hampir selalu wejangan. Dia tidak akan berbicara kalau merasa tidak perlu. Bagi dia semua perkataan dan tindakan harus ada pertanggung jawaban. Emir berada di kutub positif, dia menyerap semua nega

BALADA LARA - PART 2

OMA HILDA Secara kejiwaan Lara seperti gadis remaja kebanyakan, selalu penasaran dengan semua perubahan dan berusaha bersikap terbuka. Selalu mencoba eksis agar tidak teralienasi dengan zaman. Tapi apa boleh buat, dia memang tidak terlihat seperti  gadis remaja kebanyakan, secara fisikpun dia sedikit berbeda, kulitnya terlalu pucat, rambutnya kemerahan dan warna matanya coklat terang. Tapi dia tidak pernah mengeluhkan tentang itu, walaupun dia selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya. Baginya mengejek dirinya berarti mengejek kuasa otomatisasi Tuhan atas salah satu ciptaannya. Kehidupan Lara hanya berkutat antara rumah dan sekolah. Tidak banyak orang yang dekat dengannya kecuali Oma Hilda, Nikki dan Emir. Mereka berempat ada untuk saling menggenapi, seperti kaki meja untuk menampung rupa-rupa hidangan yang kelak akan disajikan di hadapan Tuhan. Kalau satu kaki hilang maka meja akan timpang, kalau dua hilang maka tumpahlah semua hidangan, kalau tiga hilang... bayangkan apa yang akan

BALADA LARA - PART 1

LIFE IS AUTOMATIC Bagi Lara hidup adalah sebuah perjalanan, bukan lagi sebuah pertanyaan seperti yang kebanyakan orang rasakan. Bagi dia hidup itu otomatis. Ya, hidup itu bersifat sangat otomatis, saat kita akan terlahir ke dunia kita tidak akan pernah bisa memilih lahir dengan orang tua yang mana, kita tidak bisa menentukan jenis kelamin kita, warna kulit kita, di mana kita dilahirkan, atau bahkan kepercayaan apa yang akan kita peluk saat pertama terlahir ke dunia. Hidup itu sangat otomatis, dengan kekuatan otomatis dari Dia Yang Maha Otomatis. Namanya Lara, dia adalah salah satu hasil dari ‘otomatis’ itu, dia  tidak pernah tahu siapa orang tuanya, atau terlahir di mana. Bahkan dia tidak pernah yakin kalau dia pernah dilahirkan, mungkin dia terlahir dalam keadaan pingsan sehingga dia tidak pernah ingat apapun yang berhubungan dengan kelahirannya atau pun tentang keluarganya. Ingatan terbaiknya tentang peristiwa kelahirannya hanyalah sebuah kardus, kain  kumal dan secarik kertas yan