Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

THE DUMBEST OF ALL

sumber: buktiunik.blogspot.com Kadang kami merasa heran dengan kalian. Mahkluk yang paling tak tahu diuntung, besar kepala. Memangnya kalian pikir dengan ukuran volume kepala yang hanya sebesar mangkuk kalian bisa ngangkang seenak udel kalian di bumi mulia ini? Biar kami beri tahu kenyataan yang sebenarnya supaya kalian tidak congkak lagi. Kalian itu hanya bangsa yang dulunya merayap di pohon-pohon sambal memamah dedaunan, kalian dulunya hanya segerombolan pengecut yang bersembunyi di gua-gua jika matahari terbenam. Heran juga, tidak sampai lima menit dalam   skala waktu evolusi bumi kalian sudah melompat jauh, nekat memangsa kami dan menawan   dalam kurungan sempit seperti ini. Karena   tahu fitrah , maka kami sejauh ini tetap bersabar.  Jangan salah tanggap, kami tidak seratus persen mengalah pada kalian. Tugas kami sekarang hanya sebagai penyaksi. Menyaksikan kalian tumbuh, menguasai seisi bumi, saling bunuh-bunuhan, menumpahkan darah lalu punah, setelah itu gilira

INISIASI

Aku menatap punggungnya yang dibalut jas warna abu-abu gelap. Di sepanjang lorong sempit ini aku sudah diperingatkan untuk tidak banyak berkata-kata. Sumber penerangan kami hanya cahaya temaram dari lampu-lampu berbahan bakar minyak damar yang dipasang di samping setiap pintu berpernis coklat gelap. Lantai berwarna hitam dengan motif heksagon putih berkilat-kilat memantulkan cahaya lampu kekuningan. Roger berhenti di sebuah pintu, merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa anak kunci berwarna keemasan. Dia memberi isyarat agar aku masuk setelah pintu terbuka. Aroma minyak damar meruap jelas memenuhi seisi ruangan yang tidak terlalu besar ini. Aroma belerang sesekali tercium. Roger mempersilakanku duduk di sebuah kursi. Di atas meja bulat kecil ada beberapa lembar kertas berwarna kecoklatan, sebuah belati dan garam yang diletakkan begitu saja di atas sebuah piring kecil. "Tunggu sebentar." katanya, lalu menghilang di balik sebuah tirai berwarna putih yang memisahkan ruangan

EUPHORIA

Kamu terlalu baik untuk dunia ini Percayalah, kamu terlalu baik untuk dunia ini Makanya Tuhan Maha Sayang memanggilmu lekas-lekas Bukan perkara mudah melepas kenangan Seperti merobek dada lalu mencabut jantung dengan tangan sendiri Untuk melepas perih, kusesap anggur, kutulis sajak kematian Dunia diam, rukun Lalu kukarang simfoni tentang dia yang naik ke langit Semesta berduka, sadar ada lelaki yang menimang duka tanpa sanggup berkata-kata Kamu harus tahu Iya, kamu harus tahu Pergimu tidak meninggalkan apa-apa Kecuali retakan pada daun pintu Dan rentetan kata pada ruang kosong Kopi dalam gelas mendingin Nyanyian mulai sumbang Lidahku kelu Dan kupingku sakit mendengar bebunyian asing dari langit Makanya aku diam dengan kening berkerut Sambil bersabar memanjangkan kuku Biar nanti bias kucakar wajah dunia Dan kucipta borok-borok menganga pada rupa semesta

DEADEODEI

source: jamil21.blogspot.com Aroma mesiu yang terasa mencekik nafas memenuhi udara. Tanah becek, air mata, keringat dan darah bercampur menjadi   lumpur. Belasan serdadu yang setengah-mati merintih, mengerang, berdoa. “Tuhan masih jauh… Tuhan masih jauh.” Tumpukan mayat bergelimpangan, sebagian tidak utuh. Burung condor memamah usus dan jeroan mayat. Berkeok-keok, menari dan bernyanyi dalam pesta kematian. “Air… to..long beri air… a..ir.” Seorang serdadu dengan suara terputus-putus merayap mendekatiku. Kuambil bayonet yang tesampir di pinggang lalu kutikamkan tepat di tenggorokannya, darah menyembur bagai air mancur, muncrat kemana-mana. Tubuh serdadu kelojotan lalu diam. Aku tersenyum sambil menjentikkan korek api dan membakar sebatang rokok. Kuhisap dalam-dalam asap rokok pahit yang berpadu dengan pedasnya aroma mesiu. Nikmat. Sambil bersandar di onggokan peluncur mortir karatan kusaksikan pemandangan sore ini. Tanah semerah darah senada dengan warna langit

SIMFONI

sumber: google Satu kelokan lagi dan kita akan sampai di sebuah pintu tertutup jelaga: porta nigra. Padahal dari awal aku sudah enggan. Nuraniku selalu merasa dibentur-benturkan setiap menyinggahi   tempat ini. Ada kenangan masa lalu dan harapan masa depan yang baur, berebutan mengisi batok kepala. Sudahlah pasrah saja, nikmati simfoni pahit-manis-sepat yang disuguhkan takdir untuk kita ini. Siapa suruh untuk menanggung beban batin tanpa kesudahan? Air matamu juga ada batasnya. Di sana dulu aku biasa main ayunan, tunjukmu pada sebatang pohon yang menyendiri dan merana. Di hadapanku waktu mengerucut, longsor dan menimbun kenangan. Antara aku yang dulu sering bermain kuda-kudaan dengan pelepah pisang dan aku yang sekarang sudah ubanan rasanya tak ada beda. Masih sama-sama suka berkelana. Sedangkan kamu, gadis berambut tembaga dan bermata sebiru samudera, masih saja bermain peran seperti pribumi. Untuk apa leluhur kita membangun candi? Tanyamu dengan wajah je