Langsung ke konten utama

BALADA LARA - PART 7

TUHAN ADA DI MANA-MANA

Oma Hilda dan Lara sedang duduk di ruang tamu sambil menonton siaran berita di televisi. Acara paling menyedihkan dari semua program yang ditayangkan. Melalui siaran berita kita bisa melihat dan merasakan sedikit borok dunia. Ada bencana kelaparan di Ethiopia, perang saudara di Rwanda, gelombang udara panas di Eropa sampai berita bunuh diri masal yang dilakukan suatu sekte penganut kepercayaan akhir zaman.

Sebetulnya Lara bosan dan miris melihatnya, dia ingin mengganti program tapi merasa tidak enak dengan Oma Hilda. Tak lama kemudian Nikki dan Emir datang sambil membawa bungkusan berisi minuman dan makanan ringan. Mereka ikut duduk di sofa sambil membuka bungkusan.

“Ada berita apa, Oma?” Nikki bertanya sambil mencomot sepotong pizza.

“Kamu lihat saja” kata Oma Hilda tanpa memalingkan wajahnya dari layar televisi.

Berita perang di Jalur Gaza sedang ditayangkan. Banyak gambar-gambar yang menggelitik kemanusiaan, roket beterbangan, api di mana-mana, korban berjatuhan dan yang paling menyedihkan adalah anak-anak yang tidak tahu apa-apa justru menjadi korban terbanyak.

Oma Hilda mendesah, matanya berkaca-kaca melihat pemandangan di hadapannya. Lara yang menyadari keadaan ini mendekat dan menggenggam tangan Oma lalu bersandar di pangkuannya.

“Kalau saja semua manusia tahu kalau kita semua mewarisi sifat Tuhan, pasti hal-hal seperti itu dapat kita hindarkan.” Kata Oma Hilda lembut.

“Apa maksud Oma kalau kita semua mewarisi sifat Tuhan?” Emir penasaran.

“Apakah kalian pernah mendengar tentang Bilangan Fibonacci?” tanya Oma.

“Iya, Oma. Saya pernah mendengarnya. Angka Tuhan.” Kata Nikki dengan semangat.

Lara yang merasa penasaran bangun dari pangkuan Oma.

“Maksudnya apa?” Kata Lara sambil menggaruk-garuk kepala.

“Dalam setiap diri manusia ada gen Tuhan yang melekat. Seandainya manusia mau melihat ke dalam dirinya dengan teliti dia pasti akan mengenal Tuhannya dengan lebih baik. Jika manusia mengenal Tuhannya dengan baik tidak akan ada peperangan dan kelaparan.” Kata Oma menjelaskan.

“Kenapa bentuknya harus angka, Oma?” tanya Lara.

“Karena Tuhan ingin manusia memaksimalkan pemberian agung yang diberikan Tuhan pada manusia.”

“Apa itu?” Emir semakin tergelitik dan penasaran.

“Akal. Jika manusia bisa berpikir dengan jernih manusia akan menemukan bahwa alam semesta ini, mulai dari cangkang kerang sampai susunan galaksi berasal dari cetak biru yang sama. Bilangan Fibonacci tadi.” Oma mengambil gelas tehnya dan meminum sedikit.

“Seperti apa Bilangan Fibonacci itu Oma?” tanya lara lagi.

“Kamu bisa menjelaskan Nikki?” pinta Oma.

“Anu, maksudnya begini. Bilangan Fibonacci itu seperti ini susunannya 1,1,2,3,5,8,13 dan seterusnya. Dan jika kita membagi sebuah angka dengan angka sebelumnya maka hasilnya akan semakin mendekati angka 1,618.” Terang Nikki.

Lara masih tidak mengerti.

“Lalu apa hubungannya dengan angka Tuhan tadi?” tanya Lara lagi. Nikki bingung tidak bisa menjelaskan.

“Maksudnya adalah hal itu menjelaskan jika seluruh alam semesta ini tercipta dengan penuh perencanaan yang matang, tidak tercipta secara kebetulan. Semua lahir dari sebuah cetak biru yang sama. Tubuh manusia dan susunan bunga matahari juga adalah sebuah bilangan Fibonacci. Tuhan meninggalkan jejak di mana-mana. Sekarang yang jadi permasalahan adalah sejauh mana manusia mau belajar dan memaksimalkan akal pemberian Tuhan.”

Lara mulai sedikit mengerti.

“Jika manusia mampu mengenal Tuhannya dengan baik, maka keserakahan, fanatisme dan dan segala bentuk peperangan akan terhindarkan.” Sambung Lara. Oma Hilda mengangguk setuju, dia tersenyum. Anak kesayangannya kini mulai memahami sebuah esensi.

“Lalu jika hanya sebagian kecil orang mengerti dan sebagian besar lagi tidak, apa yang harus kita lakukan. Apakah kita harus tutup mata dan bersikap apatis karena kekuatan kita lebih lemah dari mereka?” Emir mulai menarik kesimpulan.

“Menurut Dan Brown, neraka paling gelap dicadangkan bagi orang-orang yang bersikap netral saat krisis moral. Kalian mau seperti itu?” kata Oma tegas.

Lara, Nikki dan Emir bergidik. Mereka menggelengkan kepalanya bersamaan.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Oma?” Nikki bertanya.

“Jelaskanlah kepada orang lain perihal esensi mereka sebagai manusia yang mewarisi sifat Tuhan di dalam dirinya. Kalau hal itu tidak berhasil, maka berdoalah. Berharap agar mereka segera menemukan esensi manusia secara hakiki.

Mereka bertiga paham dan mengangguk setuju. Siaran berita di televisi berakhir. Lalu dilanjutkan dengan acara sinetron. Oma Hilda mematikan televisi.

“Kenapa dimatikan,Oma?” protes Nikki.

“Tak ada pelajaran yang kamu bisa ambil dari sinetron. Kalian bertiga mengobrolah di balkon, buka buku pelajaran, atau jalan-jalan keluar untuk melihat keadaan di sekitar kalian.

Lara, Nikki dan Emir ingin protes tapi segan, mereka mengambil buku di rak dan segera naik ke balkon, sementara Oma Hilda pergi ke dapur menyiapkan makan siang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HANYA SEBUAH DOA SEDERHANA

“Aku hanya ingin sebuah kehidupan yang jujur dan sederhana. Sesederhana dan sejujur kopi hitam yang kusesap saat hari gerimis.” E-mail itu aku terima sekitar tiga bulan lalu. Tak pernah ada firasat sebelumnya kalau e-mail yang sederhana itu akan mengantarkan hidupku ke dalam sebuah potongan cerita tentang kehidupan yang sedemikian rumit.             Jam sebelas malam, gerimis sejak sore. Dengan perasaan malas tapi dipaksa perut yang lapar akhirnya aku melangkah juga dari kamar kost tiga kali dua meter yang pengap ini. Tujuanku jelas, nasi goreng Bang Anwar, karena hanya di sanalah aku bisa berhutang malam-malam begini dan juga ada wifi gratisan yang bisa aku tebeng . Lumayan, aku bisa mengecek      e-mail dan facebook sekalian browsing . Siapa tahu ada informasi lowongan kerja yang bisa aku lamar.             Menyedihkan memang, di zaman y...

MEREKAM KENANGAN: BAPAK SINAGA

MEREKAM KENANGAN 3 Kuregangkan punggungku, lumayan pegal juga setelah menulis hampir setengah jam. Kulirik jam tanganku, sudah jam sebelas malam. Suara gerimis yang jatuh terdengar di atas genteng terdengar samar. Hujan ternyata, selama menulis tadi aku tidak mendengar suara hujan karena telingaku tertutup head phone . Pantas saja punggungku terasa dingin. Di cuaca seperti ini pasti enak sekali minum kopi, pikirku. Lalu aku bangun dan menuju ke dapur, mampir sebentar ke kamar mandi lalu masuk ke kamar tidur. Di dalam kamar aku duduk di tepi ranjang. Aku diam termenung, rasanya ada yang janggal, tapi aku tak tahu apa. Kunyalakan sebatang rokok. Asap mengepul. Kopi! Tadi aku mau menyeduh kopi. Kenapa bisa tiba-tiba lupa begini? Apakah karena demensia ini semakin parah? Kutepiskan pikiran itu, pasti hanya lupa biasa, batinku mencoba menenangkan diri. Segera beranjak dari kamar dan langsung ke dapur. Setelah selesai menyeduh kopi aku lewat ruang tamu. Laptop ku kok menyala ya?...

ABSURDITAS

            Kalau kamu percaya takdir, maka kamu juga harus percaya dengan cerita kita. Kita adalah anak-anak kesayangan takdir. Bayangkan saja, ada ribuan gedung di jakarta. Ada lebih dari sembilan juta manusia bersesakan di kota ini setiap harinya. Tapi takdir memilih kita untuk menjadi pemeran utama dalam drama kolosalnya. Kita, dua manusia kesepian yang terus berusaha meledakkan tawa dalam kesunyian. Kita, dua orang yang selalu menyelipkan belati di bawah bantal, takut mimpi buruk yang mencekam akan membuyarkan harapan semu kita.             Kita, aku dan kamu. Dua orang pilihan takdir yang diminta melakoni peran akbar dalam drama kolosalnya. Sayangnya takdir hanya memilih acak tanpa audisi apalagi melatih kita sebelumnya. Jadilah kita berdua terseok-seok, berdarah-darah, menangis sesegukan dalam memerankan tokoh kita yang serba tanpa ketentuan. Skenario tak...