Langsung ke konten utama

Postingan

Hujan???

Musim hujan. Musim berkah katanya, hujan itu rezeki. Sebagian lagi sibuk beres-beres berencana mengungsi. Hujan turun dari langit dengan deras, rezeki tercurah, menghanyutkan sebagian rezeki yang sudah ditimbun berbulan-bulan selama musim panas. Rezeki yang sudah dikumpulkan dengan darah dan keringat hanyut terbawa banjir. Sungai-sungai meluap terisi tumpahan darah dan keringat, larung ke laut. Disantap ikan. Ikan makan darah dan keringat. Ikan ditangkap nelayan. Lalu dimakan manusia. Manusia makan darah dan keringat manusia lainnya. Manusia jadi vampir, jadi zombie, ahahahahaha ( efek kebanyakan nonton film Resident Evil) Ngelantur, skip... skip... skip... Air laut, sungai, danau, selokan, got dan rawa-rawa menguap. Mengumpul di langit, terus menerus terakumulasi, langit begah menampung awan yang sedemikian banyak, kepayahan mendorong-dorong dari satu titik ke titik lainnya dan muntah.... Langit memuntahi manusia! Petir bersahutan, langit terbahak-bahak, senang sekali melihat manusi...

BIG BANG 2 PART 10

Fenna dan wanita itu kini berdiri sejajar. Wanita itu menatap dingin ke arah laut, pandangannya tajam, wajahnya yang semula ramah berubah tegang, matanya terbelalak dan mulutnya komat-kamit seperti merapal sesuatu yang tidak bisa didengar oleh Fenna. Sudah tiga puluh detik berlalu, wanita itu masih saja bertingkah seperti tadi, Fenna terus memperhatikan semua yang dilakukan wanita itu sambil bertanya-tanya dalam hati. Tiba-tiba saja, tanpa dia duga ada sebuah energi besar yang terangkat dari dalam laut, bergerak dengan cepat dan menghujam tepat ke dadanya. Ini persis seperti kejadian tadi pagi. Dadanya langsung terasa sesak, rasa sakit mulai menjalar dengan cepat ke ulu hatinya. Fenna terbatuk-batuk. Wanita itu masih saja berkomat-kamit. Tatapannya semakin tajam dan menakutkan. Laut bergemuruh hebat, angin semakin kencang bertiup. Duar..!!! Tiba-tiba guntur menyambar memecah udara. Pandangan mata Fenna mulai buram. Tubuhnya ambruk ke tanah, menggelepar-gelepar menahan sakit yang sema...

BIG BANG 2 PART 9

"Kamu suda siap?" tanya wanita itu. Fenna diam, tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia melemparkan pandangan ke arah lautan yang gelap. Hatinya berdebar-debar, ada rasa takut luar biasa yang dia rasakan, tapi di samping wanita yang baru saja dikenalnya ini dia merasakan kedamaian. "Apakah kamu sering bertanya-tanya dalam hati kenapa kamu sering melihat, mendengar atau merasakan sesuatu yang kebanyakan orang lain tidak bisa rasakan?" wanita itu bertanya lagi. Deg. Lagi-lagi wanita itu menanyakan suatu hal yang hanya dirinya sendiri yang yahu jawabannya. Siapa sebenarnya wanita yang kini berdiri di sampingku ini? batin Fenna. "Dari mana kamu tahu itu? Siapa kamu sebenarnya?" Rasa penasarannya sudah tak bisa dia bendung lagi. "Ketahuilah Fenna, ada banyak hal yang tidak mungkin dijelaskan saat ini. satu hal yang harus kamu tahu kalau kamu dan beberapa orang lainnya yang sudah terpilih harus dipersiapkan sesegera mungkin." Fenna semakin tidak...

BIG BANG 2 PART 8

"Fenna..!!" Ada suara yang memanggil namanya dari arah reruntuhan. Tiba-tiba nyalinya ciut, tubuhnya bergetar. Hantu, pikirnya. Beberapa saat kemudia suara itu kembali memanggil namanya. "Fenna!" Dia mengumpulkan keberanian dan berusaha menoleh. Di depan reruntuhan itu kini berdiri seorang wanita paruh baya dengan setelan cardigan abu-abu dan rok hitam panjang. Syal yang melilit lehernya tampak berkibar-kibar tertiup angin laut yang semakin kencang. "Jangan takut sayang, kemarilah!" suara wanita itu kini terdengar lebih lembut. Dengan perasaan ragu dia berjalan pelan ke arah wanita itu. Tadinya bisa saja dia memutuskan untuk berlari, tapi rasa penasaran dalam hatinya mengalahkan rasa takutnya. Kini dia berhadap-hadapan dengan wanita itu. Fenna menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki, mencoba memastikan kalau wanita yang ada di hadapannya ini bukanlah hantu. Wanita itu hanya tersenyum. Fenna wanita itu kembali menyebut namanya. Fenna masih dia...

BIG BANG 2 PART 7

TITIK 4 1 Fenna bangun dengan keadaan tubuh banjir keringat. Dia masih menangis, rasa rindu dan takut pada apa yang baru saja dimimpikannya membuat tangisannya tak mudah berhenti begitu saja. Dia menyibak sedikit pintu tenda yang terbuat dari kanvas kaku berwarna biru gelap. Matahari sudah merah. Jam berapa sekarang? Batinnya. Dia mengaduk-aduk tas bawaannya dan mengeluarkan handphone. Jam setengah enam sore! Lama sekali dia tertidur. Dia masih ingat pesan yang diberikan kakeknya dalam mimpi. Pergilah ke reruntuhan di belakang pulau!! Pergilah ke reruntuhan di belakang pulau!! Pergilah ke reruntuhan di belakang pulau!! Kata-kata itu terus terngiang dalam kepalanya. Cepat-cepat dia bangun, mengaduk-aduk isi tasnya lagi dan mengambil senter. Saat pertama datang ke pulau ini dia tahu jika ada sebuah reruntuhan bekas bangunan di belakang pulau, jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar sepuluh menit berjalan kaki, tapi tempatnya sedikit memisah dan jarang dilalui wisatawan atau para p...

BIG BANG 2 PART 6

Pembina yang tadi marah-marah pada temannya juga datang ke tenda medis, mengecek nadinya dan menanyakan sakit yang dia rasakan. Kali ini beda, dia merasakan kedamaian tiba-tiba. Bukan lagi amukan amarah yang meledak-ledak. Kamu tidak apa-apa? tanyanya dengan wajah sedikit pias mengkhawatirkan salah satu anak yang harus dijaganya selama  kegiatan study tour berlangsung. Fenna diam saja. Dia masih sibuk memikirkan apa yang dialaminya barusan. "Kamu sudah sarapan?" tanya kakak pembinanya lagi. Fenna mengangguk. Sekali lagi kakak pembina mengecek nadi Fenna. Setelah yakin semuanya normal dia meninggalkan tenda sambil berpesan agar Fenna tidak usah mengikuti sisa kegiatan yag akan dilakukan mengingat kadaannya yang kurang sehat. Mungkin karena pengaruh obat atau karena mentalnya masih syok dengan kejadian yang dialaminya barusan, tiba-tiba Fenna merasa mengantuk. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu kakeknya yang sudah lama meninggal. Kakek Fenna adalah salah seorang  Suku Daya...

BIG BANG 2 PART 5

Semakin umurnya bertambah, sensitifitas tubuhnya semakin menjadi-jadi. Dia teringat peristiwa beberapa tahun lalu saat sekolahnya mengadakan kegiatan study tour di pulau Onrust. Salah satu pulau bersejarah di sekitar kepulauan seribu. Pada awal perjalanan semua terasa menyenangkan dan baik-baik saja. Banyak fenomena ganjil yang dia lihat di sepanjang tepian dan hutan di pulau itu, tapi bagi dia semua masih terasa normal. Saat malam hari pun semua normal, mereka menyalakan api unggun dan berkumpul sambil bernyanyi bersama. Tapi pagi itu semua terasa lain. Dari dalam tenda Fenna mendengar salah seorang pembinanya membentak-bentak dan berteriak. Dengan perasaan heran dia keluar dan berjalan menuju arah suara. Di sana Fenna melihat Anna dan Fadil sedang dimarahi karena mereka kepergok sedang bermesraan. Tapi bukan itu masalah utamanya, Fenna merasakan ada gelombang amarah yang sangat besar dari kakak pembina. Ada yang salah, itu yang pertama kali Fenna rasakan. Omelan yang di...