Langsung ke konten utama

Postingan

BULAN PUCAT

Bulan yang menggantung sempurna di angkasa itu seutuhnya milik Fla. Secara keseluruhan bulan merupakan analogi yang sempurna untuk menggambarkan kisah cintanya. Kisah cinta rumit dengan pasang surutnya, terkadang begitu terang dan membahagiakan tapi tak jarang pula begitu gelap dan menyesatkan. Cinta yang memberi harapan dan keputusasaan di detik yang bersamaan. Fla merasa gamang. Risau yang tak berkesudahan. Bulan yang setiap malam dipandangi dari jendela kamarnya yang pucat itu merepresentasikan pasang surut hubunganya dengan Ray. Kadang Fla menyesali keputusan bodohnya membiarkan Ray masuk ke dalam hidupnya di saat-saat yang paling rawan. Waktu itu Fla tidak berpikir panjang. Rasa frustasinya yang akut akan hubungannya dengan Doni menjadikan Ray seperti ksatria berkuda putih yang datang di masa terkelam dalam hidupnya. Ya, Fla dan Ray berselingkuh. Fla membagi cintanya dengan Ray yang notabene-nya adalah teman Doni juga. Kisah cinta segitiga yang tidak mungkin ini menjadikan amuk...

SIAPA KAMU

Satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang dan sekaligus paling malas saya jawab : Siapa kamu ? Seolah dari ratusan ribu kosa kata yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bisa dirangkum hanya dalam dua kata dan satu tanda tanya di ujungnya. Siapa kamu ? Begitu luar biasa bencinya saya sampai-sampai mengabdikan seperempat jatah hidup saya sampai saat ini hanya untuk mencari jawaban atas satu pertanyaan. Siapa kamu ? Dua kata ditambah satu tanda tanya di ujungnya tapi   bisa melesakkan mahkluk paling jenius sekalipun ke dalam ranah imbisil yang parah. Pertanyaan yang menyeluruh, mempertanyakan sekaligus menghakimi secara tragis eksistensi seorang manusia. Pertanyaan mematikan yang jika salah memilih jawaban akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru. Pertanyaan yang melahirkan bifurkasi lalu menciptakan bifurkasi lainnya yang bercabang banyak dan bertumpuk-tumpuk. Siapa kamu ? Sampai pada titik tertentu di tahun terakhir saya menyerah. Jika...

ABSURDITAS

            Kalau kamu percaya takdir, maka kamu juga harus percaya dengan cerita kita. Kita adalah anak-anak kesayangan takdir. Bayangkan saja, ada ribuan gedung di jakarta. Ada lebih dari sembilan juta manusia bersesakan di kota ini setiap harinya. Tapi takdir memilih kita untuk menjadi pemeran utama dalam drama kolosalnya. Kita, dua manusia kesepian yang terus berusaha meledakkan tawa dalam kesunyian. Kita, dua orang yang selalu menyelipkan belati di bawah bantal, takut mimpi buruk yang mencekam akan membuyarkan harapan semu kita.             Kita, aku dan kamu. Dua orang pilihan takdir yang diminta melakoni peran akbar dalam drama kolosalnya. Sayangnya takdir hanya memilih acak tanpa audisi apalagi melatih kita sebelumnya. Jadilah kita berdua terseok-seok, berdarah-darah, menangis sesegukan dalam memerankan tokoh kita yang serba tanpa ketentuan. Skenario tak...

DISLOKASI

Seorang teman pernah bercerita kalau beberapa tahun terakhir dia banyak menghabiskan waktu berkeliling Indonesia. Mengunjungi tempat-tempat eksotis. Mendaki gunung, mandi matahari, menyelam, bermain ombak, sampai masuk ke pedalaman dan bertemu suku-suku terasing. Saya berdecak kagum, begitu banyak yang sudah dia lihat pasti begitu kaya batinnya dengan beragam pengalaman selama perjalanan. Di luar perkiraan, pengakuan mengejutkan meluncur dari bibirnya, ternyata dia tidak merasa bahagia, perjalanannya kosong melompong. Tubuhnya pergi berkeliling ke seluruh negeri, tapi hatinya tetap tertambat dalam kamarnya yang sempit dan sesak. Jejak kakinya ada di mana-mana tapi ruhnya terperosok dalam sumur gelap, mengiba-iba meridu cahaya. Pada titik ini saya mulai berpikir, mencerna baik-baik semua yang dia ceritakan. Mentok, buntu, saya tidak bisa mencari korelasi atas kejadian yang menimpa dirinya. Bukankah dengan semakin banyak kita mengunjungi tempat baru, bertemu orang-orang baru justru bat...

PULANG

Mereka bilang kamu itu terlalu asyik dengan duniamu sendiri. Anti sosial. Mati rasa. Kebas. Kamu terlahir cacat, kurang sempurna. Indra peka dalam tubuhmu  kurang berkerja dengan baik. Apalagi kalau kamu sudah berhadapan dengan buku. Semesta di sekitarmu seketika lenyap, terhisap mampat dalam bingkai kacamata berlensa minus tiga koma tujuh lima. Kadang aku bertanya-tanya, apa enaknya sih duduk berlama-lama sambil memangku buku? Apa punggugmu  tidak pegal? Diam-diam aku iri dengan melimpah ruahnya rasa apatis dalam dirimu. Saat kamu tenggelam dalam bacaan, seolah-olah semua indra di tubuhmu ter-shut down otomatis. Hanya matamu yang aktif berbinar-binar melompat dan merayapi setiap huruf, kata dan kalimat. Tidak ada gemericik hujan, cericit burung atau dengus nafas yang mampu mengusik konsentrasimu. Dunia runtuh dan memadat menjadi tumpukan abjad yang tercetak dalam buku yang kamu genggam. Itulah duniamu. Sebuah dunia serba monokrom yang bagiku begitu menjemukan. Kadang aku m...

AIR PUTIH UNTUK CALON PENULIS

Sebagai orang yang suka menulis (bukan penulis), kadang saya dihadapkan pada situasi bertemu dengan orang-orang yang selalu ingin tahu segala hal dan suka bertanya macam-macam. Entah  itu teman, mentor, murid atau bahkan orang yang baru saja saya kenal di dunia nyata atau dunia maya. Pertanyaan yang paling sering mereka tanyakan adalah “kenapa mau jadi penulis?” Yang lebih mengagetkan lagi, orang yang paling sering menanyakan hal itu adalah para mentor. Kadang saya mejadi bertanya-tanya, apakah sampai sekarang justru para mentor saya adalah orang yang paling tidak tahu alasan mereka menjadi penulis. Atau mungkin mereka tahu tapi mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang alasan-alasan seseorang untuk menjadi penulis. Sampai sekarang jujur saja saya tidak pernah tahu apa alasan yang membuat saya menggemari dunia tulis menulis. Jika seseorang bertanya kepada saya tentang alasan saya, biasanya jawaban saya diplomatis, “Karena saya suka”.  Dan seperti pada umumnya, mereka ti...

AMBILLAH LEPASKANLAH

Sebanyak apapun yang kamu mau, ambillah. Sesedikit apapun yang kamu benci, lepaskanlah.             Jujurlah, jangan ingkar lagi. Akui saja kalau kita terlalu mabuk pada masa muda. Menganggap diri kita tak terkalahkan, raja diraja. Kita terlalu terlena menggenggam ilusi sampai-sampai kita lupa bahwa kita juga hanya segenggam   ilusi.              Kita ini hanya sepasang mahkluk finite yang berenang-renang dalam semesta infinite . Semesta ini abadi tapi kita fana. Kita tak bisa hidup selamanya tapi selalu ada kesempatan untuk dikenang selamanya.             Jauh-jauh hari kata-kata ini mau aku katakan semua, tapi tampaknya anggur yang kamu reguk terlalu banyak sampai kamu luar biasa   mabuk. Saat kamu hampir terjaga ternyata waktumu hampir usai, waktumu banyak yang terlupa. Lalu dalam celah ha...