sumber: cratecartel.campband.com Mereka datang berbondong-bondong, jumlahnya bukan lagi ribuan, jutaan tapi puluhan juta. Keluar dari liang-liang, muncul dari selokan yang mampet, hadir dari laut, terbit dari gurun dan menampakan diri dari hutan-hutan. Dengan mulut menganga dan tangan terkepal di udara mereka datang. Sebagian berlari, ada yang berjalan, merayap dan sebagian lagi menyeret tubuhnya di atas aspal panas. Seorang dari golongan mereka naik ke mimbar, wajahnya pucat, mata semerah saga dan mulut bau alkohol. “Aku datang! Aku datang!” bukanya, “Dengan tangan terbuka, menggenggam harapan… kini aku datang!” Suara riuh memenuhi udara dari segala penjuru. “Datanglah kepadaku, wahai kamu yang terusir dari tanah leluhurmu, kamu yang didera nestapa dan dibelenggu ketidak adilan. Datanglah! Datanglah!” Suara-suara riuh mulai reda. Mulut mereka yang sedari tadi berkata-kata mulai diam. Telinga dipasang tinggi-tinggi, menyimak, berharap akan ada air sejuk yan...
JANGAN PERNAH MEMBELAKANGI MATAHARI